Travel

11 Tradisi Lebaran Ketupat dari Berbagai Daerah di Indonesia

Di Beberapa daerah di Indonesia, perayaan Hari Raya Idul Fitri selalu diikuti dengan berbagai tradisi yang ada dan masih melekat di masyarakat. Salah satunya adalah Lebaran Ketupat. Jika di Jawa Tengah, hari ke tujuh pada bulan Syawal dirayakan dengan Bak do Kecil , Syawalan atau yang lebih populer dengan sebutan Bakdo Ketupat (Lebaran Ketupat).

Bukan tanpa alasan, dinamakan Lebaran ketupat karena hidangan yang disajikan berupa menu ketupat. Tidak hanya di Jawa Tengah, Lebaran Ketupat juga masih dipertahankan di beberapa daerah hingga saat ini. Di Madura, tradisi Lebaran Ketupat ini biasa disebut dengan Terater.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan setiap tanggal 7 Syawal setelah umat Muslim selesai melaksanakan ibadah puasa sunah selama enam hari di bulan Syawal. Hampir sama dengan daerah lainnya, masyarakat Madura juga menyantap ketupat dengan opor atau ayam goreng. Uniknya, di Madura hidangan Lebaran Ketupat tidak langsung disantap, melainkan terlebih dulu diserahkan kepada imam masjid atau dibawa ke mushala setempat.

Setelah makanan terkumpul, para warga biasanya akan langsung berkumpul dan menggelar doa bersama. Kegiatan ini masih dilakukan dan terus dipelihara untuk mempererat tali persaudaraan antar muslim setelah selesai berpuasa. Tradisi ini sekaligus sebagai tanda syukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan melanjutkan puasa selama enam hari pada awal Syawal.

Syawalan atau lebaran Ketupat dirayakan dengan prosesi kirab gunungan Seribu Ketupat di Kudus, Jawa Tengah. Gunungan terdiri dari susunan seribu ketupat dan ratusan lepet yang diarak dari rumah kepala desa setempat menuju Masjid Sunan Muria. Selain gunungan, masyarakat juga menggelar tradisi ziarah ke Makam Sunan Muria.

Kegiatan ini kemudian dilanjutkan dengan minum air dan mencuci kaki serta tangan dengan air dari gentong peninggalan Sunan Muria. Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur warga setelah menjalani puasa Ramadhan selama satu bulan. Masyarakat Manado merayakan Lebaran Ketupat dengan saling mengunjungi dan saling memaafkan.

Warga muslim di Manado membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang datang berkunjung. Tak hanya di Manado, beberapa daerah di Sulawesi Utara juga merayakan tradisi ini seperti di Kampung Jawa Tondano dan Desa Sea. Sejarah Lebaran Ketupat, khususnya Manado, awalnya dibawa oleh warga Jawa yang merupakan keturunan Imam Bonjol di Tondano.

Tradisi ini kemudian terus dilanjutkan dan dirayakan setiap tahunnya. 4. Lombok Masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Timur menyebut tradisi ini dengan nama Lebaran Topat, yang dimeriahkan dengan tradisi nyangkar.

Nyangkar merupakan tradisi nenek moyang orang Sasak saat merayakan Lebaran Topat. Masyarakat Lombok akan melakukan arak arakan cidomo hias yang mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan di makam Loang Baloq. Sesampainya di makam, masyarakat akan melakukan zikir dan doa bersama.

Perayaan ini kemudian dilanjutkan dengan potong ketupat dan makan bersama di Taman Loang Baloq. Warga Kelurahan Kelutan, Trenggalek, memiliki cara sendiri dalam merayakan Lebaran Ketupat. Pada hari ketujuh bulan Syawal, masyarakat akan mengelar pawai gebyar Lebaran Ketupat.

Acara ini sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun dan menjadi daya tarik bagi warga Trenggalek serta pengunjung dari luar daerah, seperti Ponorogo dan Tulungagung. Berbagai kegiatan digelar dalam pawai ini, seperti parade busana, kesenian tari daerah, serta penampilan marching band dari warga Kelutan. Salah satu yang paling banyak disaksikan adalah pawai taaruf.

Pengunjung juga dapat menikmati ketupat sayur secara gratis yang disediakan oleh warga sekitar. Hampir setiap rumah menyediakan hidangan ketupat gratis bagi warga yang menyaksikan pawai maupun yang hanya lewat di jalan itu. Lebaran Ketupat juga dirayakan di beberapa titik wilayah kabupaten Trenggalek, yaitu di Kecamatan Durenan, Pogalan, serta Gandusari.

Rangkaian perayaan Hari Raya Idul Fitri di Dusun Kauman, Desa Payaman, Magelang diisi dengan Festival Balon Syawalan. Tradisi yang sudah berlangsung sejak tahun 1980 an tersebut diadakan untuk memperingati Syawalan atau Lebaran Ketupat. Sedikitnya ada 150 balon udara tradisional yang diterbangkan sebagai tanda Syawalan.

Ada dua lokasi pelepasan balon udara. Pertama, di halaman depan Masjid Agung Kauman dan di lapangan dusun setempat. Setiap tahun ada panitia membuat tema berbeda yang diangkat sesuai dengan momentum yang sedang hangat saat itu. Jika di daerah lain Lebaran Ketupat diisi dengan festival atau acara keagaman, lain halnya di Pasuruan.

Warga Desa Tambaklekkok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan punya cara unik untuk memperingati perayaan ini, yakni dengan menggelar lomba skilot. Skilot merupakan perayaan tahunan di mana para peserta beradu cepat dengan berselancar di atas lumpur. Caranya, dengan menekuk satu kaki di atas papan selancar, sedangkan kaki yang lainnya digunakan untuk mengayuh papan.

Skilot sendiri berasal dari dua kata, yakni sky, bahasa Inggris yang berarti selancar dan cellot, bahasa Madura yang berarti lumpur. Tak hanya jadi ajang adu ketangguhan, acara ini juga menjadi tontonan dan hiburan warga sekitar. Permainan tradisional ini sendiri merupakan warisan budaya leluhur yang tetap dilestarikan.

Tradisi ini tidak serta merta ada. Awalnya, skilot merupakan kebiasaan warga yang mencari kerang di pesisir pantai. Untuk memudahkan perjalanan, warga kemudian menggunakan papan selancar. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi kegiatan untuk memeriahkan perayaan Lebaran Ketupat.

Masyarakat Kolaka khususnya di Kecamatan Toari dan Watubangga serta beberapa kecamatan lainnya merayakan Lebaran Ketupat di Pantai Lamunre yang terletak di Desa Lamunre. Pada hari ketujuh setelah Lebaran, warga akan mengadakan rekreasi bersama sanak saudara serta membawa menu hidangan ketupat. Pada awalnya, tradisi ini dibawa oleh masyarakat Jawa yang berada di Desa Ranomentaa dan Wowoli.

Namun, sekarang bukan hanya suku Jawa saja yang merayakan, tetapi masyarakat asli di daerah tersebut. Hampir semua warga Gorontalo merayakan tradisi Lebaran Ketupat. Perayaan dilakukan dengan menyelenggarakan open house di rumah rumah, khususnya di Kampung Jawa, seperti Desa Yosonegoro, Kecamatan Limboto Barat, Gorontalo.

Setiap rumah sepanjang Jalan Yosonegoro akan menyelenggarakan open house. Menu utama yang disediakan adalah ketupat dan opor ayam, siapa saja boleh menikmati hidangan tersebut. Sebelum dirayakan, sebagian warga akan menjalankan ibadah puasa sunah di bulan Syawal selama enam hari.

Tradisi Lebaran Ketupat ini awalnya hanya dilakukan oleh orang Jaton (sebutan untuk etnis Jawa Tondano). Namun, warga Gorontalo sekarang sudah melebur dan ikut merayakannya. Lebaran Ketupat juga dirayakan dengan meriah di Rembang. Warga menyebutnya dengan Rioyo Kupat.

Tradisi ini dirayakan dengan cara memasak dan makan bersama di masjid. Seusai shalat Subuh, pengurus masjid memberitahukan agar warga membawa ketupat yang sudah dibuat ke masjid. Warga akan langsung berdatangan ke masjid sambil membawa wadah berisi ketupat, sayur bersantan kue lepet (ketan dengan isi kacang merah), serta aneka macam kue.

Di Gresik, tradisi Lebaran Ketupat dilakukan oleh warga di sekitar alun alun, terutama di Kampung Kauman. Tradisi yang juga dikenal dengan nama Lebaran Kauman ini dilaksanakan setelah melakukan puasa Syawal selama enam hari berturut turut. Tradisi puasa Syawal diperkenalkan oleh ulama bernama Kiai Baka yang masih keturunan Sunan Giri.

Ia meminta santrinya untuk mengikuti sunah Rasul dengan berpuasa Syawal selama enam hari. Tradisi tersebut dilakukan hingga kini. Pada 1 Syawal, warga Kauman melaksanakan shalat Idul Fitri.

Ketika daerah lain semarak dengan berbagai perayaan Lebaran, Kampung Kauman justru sepi. Warga akan meneruskan puasa Syawal hingga enam hari, dimulai sehari setelah salat Idul Fitri. Selanjutnya, masyarakat baru bersukacita merayakan Lebaran.

Uniknya, Lebaran Kauman hanya dirayakan dalam semalam. Seusai shalat Maghrib, warga akan saling mengunjungi dan menikmati hidangan ketupat dan lepet. Tradisi ini menjadi puncak silaturahmi warga yang sudah berlangsung turun temurun.

Pada malam kupatan, banyak warga kampung lain yang juga berdatangan.

Tags
Show More

Ririna Nafiza M

Jika kamu tak membayangkannya, tak ada sesuatu pun yang akan terwujud. Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close