Internasional

20 Seniman Kontemporer Indonesia Tampil di Galeri Nasional Australia

Pameran seni bertajuk Contemporary Worlds: Indonesia menampilkan hasil karya 20 seniman kontemporer paling bergengsi dari Indonesia. Pameran seni tersebut digelar di Galeri Nasional Australia mulai Jumat (22/6/2019). Direktur Galeri Nasional Nick Mitzevich mengatakan pameran besar pertama Australia ini bertujuan untuk menyoroti karya seniman Indonesia dalam abad 21.

Seniman memberikan suara kepada penggalian topik mulai dari seksualitas, aturan gender dan keluarga, hingga perhatian terhadap lingkungan hidup, pasar seni, material baru dan bentuk, obyek sehari hari dan bagaimana manusia mendengar dan belajar dari suara Indonesia. “Seni menyediakan sebuah cara yang penuh makna dan memiliki daya tarik tersendiri bagi penonton Australia untuk belajar dan memahamai satu dari tetangga yang paling penting keberadaannya, Indonesia,” kata Direktur Galeri Nasional Nick Mitzevich. Koleksi hasil karya ini berasal dari beberapa seniman yang penuh energi dan merupakan manisfestasi yang menawan dalam dari perubahan Indonesia selama 20 tahun.

Contemporary Worlds: Indonesia menampilkan karya terbaru dan berskala besar yang diadakan di Galeri Nasional yang memiliki komitmen tinggi terhadap koleksi seni Asia, yang dimulai dibawah bimbingan perdana direktur James Mollison. “Beberapa karya seni diperoleh dari koleksi nasional Australia dan menampilkan sumber seni saat ini dari Indonesia yang penting untuk diteliti selanjutnya, dibagi, dan dipublikasi untuk masa depan,” kata Mitzevich. Kurator Senior Seni Asia Carol Cains mengatakan bahwa seniman kontemporer Indonesia telah melampaui garis batas yang ada untuk menggali dan membahas kembali sejarah, isu politik, dan pengembangan sosial.

“Masing masing seniman memiliki inspirasi yang berasal dari pengalaman pribadi terhadap tempat dan ruang, dan hasil karya mereka menghubungkan kepada masa lalu dan kontemporer yang mewakili Indonesia,” kata Cains. Banyak suara di Indonesia pada masa modern yang memainkan peran penting bagi penonton untuk mendapat pengalaman dari Contemporary Worlds: Indonesia. “Di dalam perubahan lingkup suara abad 21, seniman menyediakan hasil karya untuk kita dengan kesadaran baru dalam mendengar, menterjemahkan, membentuk, dan membagi secara pribadi dan kolektif dunia kontemporer ini,” kata Senior Kurator Seni Kontemporer Jaklyn Babington.

Gabungan kurator dari Seni Asia Galeri Nasional dan Kelompok Kurator Seni Kontemporer menjadikan pameran ini sebuah acara lintas budaya yang penting dan melibatkan ahli dari Australia dan Indonesia, terutama kolaborasi kurator Alia Swastika, Enin Supriyanto, Dr. Agung Hujatnikajennong dan Grace Samboh. Galeri juga berterima kasih kepada kelompok kurator antar institusi yang telah berbagi pengetahuan untuk membawa kegiatan ini bersama Dr. Caroline Turner, Dr. Chaitanya Sambrani, dan Dr. Elly Kent dari Universitas Nasiola Australia; Mikala Tai, Direktur Galeri 4A, Sydney; dan Christine Clarke, National Portrait Gallery. Pameran terdiri dari lukisan, patung, instalasi, gambar berjalan, fotografi dan tekstil, dan program pentas serta serial film yang dikuratori oleh sutradara Indonesia Garin Nugroho. Pameran ini juga menyoroti pertunjukan pertama artis Australia “Transaction of Hollows, penampilan berdurasi yang menawan dari Melati Suryodarma dan eksplorasi neon dalam persengkokolan pasar seni kontemporer oleh Uji Handoko Eko Saputro (Hahan) berkolaborasi dengan Adi “Uma Gumma” Kusuma dan lukisan yang menggetarkan dari Zico Albaiquni.

Para seniman yang tampil di Contemporary Worlds: Indonesia adalah Zico Albaiquni, Akiq AW, Febie Babyrose, Faisal Habibi, Herbert Hans, Duto Hardono, F.X. Harsono, Ruddy Hatumena, Mella Jaarsma, Adi ‘Uma Gumma’ Kusuma, Jompet Kuswidananto, MES 56, I Gusti Ayu Kadek (IGAK) Murniasih, Eko Nugroho, Garin Nugroho, Octora, Yudha “Fehung” Kusuma Putera, Tita Salina, Tisna Sanjaya. Kemudian, Handiwirman Saputra, Uji (Hahan) Handoko Eko Saputro, Albert Yonathan Setyawan, Melati Suryodarma, Agus Suwage, Julian Abraham ‘Togar’, Tromarama, I Made Wiguna Valasara, dan Entang Wiharso. Contemporary Worlds: Indonesia berlangsung mulai 21 Juni hingga 27 Oktober 2019.

Tags
Show More

Ririna Nafiza M

Jika kamu tak membayangkannya, tak ada sesuatu pun yang akan terwujud. Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close