Seleb

Fakta Terbaru Lisensi Terbang Kapten Vincent Raditya Dicabut, Masih Bisa Terbangkan Batik Air

Dicabutnya lisensi terbang pilot yang juga YouTuber, Kapten Vincent Raditya menuai kontroversi. Ada warganet yang setuju dengan pencabutan itu, namun ada juga yang menganggapnya berlebihan. Vincent sendiri mengaku ikhlas dengan pencabutan lisensi terbangnya untuk single mesin.

Pencabutan lisensi terbang Vincent hanya untuk single mesin. Vincent masih bisa menerbangkan pesawat berbadan besar seperti Airbus 320 maupun Boeing 737. “Dia hanya tidak bisa menerbangkan pesawat Cessna 172 atau pesawat yang single engine yang mesin 1,” ucap Abraham Sylvester, asisten dari Vincent saat dikonfirmasi, Rabu (29/5/2019) seperti dikutip dari Kompas.com.

Abraham mengatakan, Kapten Vincent masih memegang lisensi Multi Engine sehingga masih bisa mengoperasikan Batik Air, maskapai tempat ia bekerja. Sebab pesawat milik Batik Air berjenis Airbus dan Boeing. “Ia masih dapat mengoperasikan pesawat yang memiliki mesin lebih dari 1 (multi engine),” ucapnya.

Ia mengatakan, Vincent sampai saat ini masih bekerja di Batik Air meski lisensi terbang dengan single engine nya dicabut. Menurut Abraham, Batik Air mendukung langkah dari Vincent sebagai kreator video (YouTube). “Masih bekerja dia di Batik Air. Perusahaannya pun dukung Kapten Vincent,” ucapnya.

Setelah lisensinya dicabut, apa langkah Vincent selanjutnya? Vincent menyatakan akan terus menjadi video kreator. “Jadi netizen sekalian tak perlu khawatir tanpa ada pesawat itu, saya akan berjuang tetap membuat konten (Youtobe),” kata Vincent melalui video di akun Youtobe nya seperti dikutip dari Kompas.com.

Vincent menambahkan, dirinya akan membuat vlog yang lebih kreatif lagi untuk mengundang orang melihat vlognya. Kemenhub menilai Kapten Vincent telah melanggar sejumlah ketentuan. Salah satunya terkait manuver zero gravity (G Force).

"Itu bukan manuver yang normal atau lazim dilakukan dalam penerbangan sipil," tulis Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub dalam siaran pers, Jakarta, Rabu (29/5/2019). "Karena manuver tersebut dapat menimbulkan ketidaknyamanan pada penumpang, membahayakan dan berpotensi mengakibatkan kecelakaan," sambung regulator. Bahkan menurut Kemenhub, manuver tersebut bisa membuat pesawat terbang mengalami stress berlebih pada airframe atau flight control karena overload.

Hal ini bisa terjadi bila pilot tidak menguasai dengan baik aspek aspek terbang aerobatik dan batasan performa pesawat terbang. Untuk itu Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti berharap agar kasus Capt Vincent bisa menjadi pelajaran semua pihak untuk tetap memprioritaskan keselamatan dan keamanan penerbangan. “Kami menghimbau kepada seluruh penerbang pesawat udara sipil untuk tidak melakukan aksi manuver zero gravity (G Force) kepada penumpang umum," kata dia.

Tags
Show More

Ririna Nafiza M

Jika kamu tak membayangkannya, tak ada sesuatu pun yang akan terwujud. Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close