Internasional

H+1 Pengeboman di Sri Lanka, Korban Tewas dan Terduga Pelaku Bertambah, Jam Malam Dicabut

Sejumlah kabar terbaru terungkap setelah peristiwa pengeboman di Sri Lanka yang terjadi Minggu (21/4/2019) pagi. Pada Senin (22/4/2019) hari ini, tercatat jumlah korban tewas, korban luka, hingga jumlah terduga pelaku bertambah. Sementara itu aparat dan pemerintah setempat telah mencabut jam malam nasional yang diberlakukan semalam.

Diberitakan, delapan ledakan terjadi di tiga gereja serta tiga hotel mewah di Sri Lanka selama kebaktian Paskah. Polisi Sri Lanka telah menangkap 24 orang sehubungan dengan serangkaian pemboman bunuh diri yang menghancurkan di hotel dan gereja pada hari Minggu Paskah yang menewaskan hampir 300 orang dan lebih dari 500 lainnya terluka. Sebelumnya dirangkum dari BBC, Kepolisian Sri Lanka sejauh ini telah menangkap 13 orang yang diduga terlibat dalam aksi teror di sejumlah gereja dan hotel tersebut.

Pemerintah Sri Lanka menyebut ledakan yang terjadi sebagian besar merupakan serangan bom bunuh diri. Setidaknya ada tiga serangan yang dilakukan oleh pelaku bom bunuh diri. Mengutip dari Telegraph, Menteri Pertahanan Sri Lanka Ruwan Wijewardena, mengatakan ledakan ini sebagai serangan teroris oleh para ekstremis agama.

Jumlah korban tewas meningkat secara signifikan menjadi 290 orang menurut informasi polisi setempat pada Senin ini. Data kepolisian, bahwa sekitar 500 orang juga terluka dalam serangan tersebut. Kementerian Luar Negeri Sri Lanka mengatakan sedikitnya 27 orang asing termasuk di antara mereka yang tewas.

Negara negara yang telah mengkonfirmasi warganya terbunuh termasuk Amerika Serikat, Inggris, Cina, Jepang dan Portugal. Ruwan Gunasekera, juru bicara polisi, juga tidak mau mengungkapkan berapa banyak orang terbunuh di masing masing sembilan lokasi teror bom termasuk tiga gereja dan tiga hotel. Pihak berwenang berfokus pada sebuah kelompok kecil yang diketahui para ahli yang mempromosikan ideologi teroris Islam di Asia Tenggara.

Hal demikian dilakukan dalam menyelidiki fakta pengeboman di Sri Lanka pada hari Minggu Paskah. Kelompok ini memiliki reputasi untuk merusak patung patung Buddha tetapi sedikit sejarah melakukan serangan teroris, yakni National Thowheeth Jama'ath. Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe dari Sri Lanka mengatakan pada hari Minggu bahwa belum diberitahu tentang ancaman teror 10 hari lalu.

Ancaman dan peringatan tersebut disebutkan sebagai kekhawatiran intelijen setempat. Jam malam nasional dicabut pada Senin pagi. Tetapi media sosial utama dan layanan pesan, termasuk Facebook dan WhatsApp, tetap diblokir oleh pemerintah untuk mengekang penyebaran informasi yang salah.

Sebelumnya jam malam pada malam harinya diberlakukan di Sri Lanka setelah kejadian pengeboman Minggu pagi. Selain itu, pemerintah juga memblokir semluruh media sosial sementara waktu ini. Pejabat Sri Lanka untuk sementara memblokir beberapa jaringan media sosial, termasuk Facebook dan Instagram.

Pengguna juga melaporkan tidak dapat mengakses layanan perpesanan WhatsApp dan Viber. Meskipun serangan hari Minggu tidak memiliki kaitan dengan media sosial, Sri Lanka memiliki sejarah yang bermasalah dengan kekerasan yang menghasut pada platform. Larangan itu merupakan langkah luar biasa yang mencerminkan keprihatinan global yang berkembang tentang media sosial.

Tags
Show More

Ririna Nafiza M

Jika kamu tak membayangkannya, tak ada sesuatu pun yang akan terwujud. Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close