Internasional

Naik Gunung Fuji Sambil Siaran Langsung Malahan Meninggal hendak Lulus Ujian Hukum Jepang

Polisi perfektur Shizuoka menemukan mayat lelaki usia 47 tahun, Toru Shiobara, diperkirakan jatuh dari ketinggian 700 meter setelah pendakian ke gunung Fuji belum lama ini. Jenazah ditemukan di Pos No.6 gunung Fuji sekitar 3000 meter ketinggian di atas permukaan laut. Shiobara berasal dari Nishiwaseda, Shinjuku ku, Tokyo melakukan pendakian gunung di saat penutupan masa pendakian saat ini yang justru sangat berbahaya.

Masa pendakian gunung Fuji biasanya antara Juli September dan setelah itu pihak kepolisian dan pengelola gunung Fuji menghimbau masyarakat agar tidak lagi melakukan pendakian karena sangat berbahaya dengan salju tebal dan angin kencang. Kepolisian Gotemba menduga kuat Shiobara tampaknya telah terpeleset ketika dia merekam video dirinya sendiri yang mendaki Gunung Fuji pada sore hari tanggal 28 Oktober 2019. Pada Video yang terlihat pada saat itu di internet dilihat banyak orang, menunjukkan seorang pria berjalan perlahan melalui gunung bersalju saat siaran langsung, dan tahu tahu meluncur turun jatuh sambil teriak "Saya Terjatuh" dengan suara kencang. Setelah itu tak ada kabar lagi dan ada anggota masyarakat langsung melaporkan kepada pihak kepolisian Jepang yang langsung melakukan pencarian bersama tim penyelamat pendaki gunung Fuji. Tidak ada barang barang pribadi yang dapat diidentifikasi, dan tubuhnya berpakaian dalam keadaan rusak parah.

Tampaknya dia tergelincir dengan kecepatan tinggi lebih dari 700 meter dari puncak gunung ke pos No. 6 tersebut. Diperkirakan bertabrakan dengan batu dan meninggal dunia. Saat ini jumlah kecelakaan di gunung Fuji sekitar 19 kasus dan sekitar 6 orang meninggal dunia per 31 Oktober 2019. Pada Januari 2013, dua wanita muda yang belum pernah mendaki Gunung Fuji melakukannya dengan sepatu kets biasa.

Karena kondisi fisik yang buruk, ia tidak dapat turun gunung sendiri, dan tim bantuan bencana gunung akhirnya berhasil menyelamatkannya. Gunung Fuji terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 2013, telah menjadi semakin populer sebagai tempat wisata, dan banyak orang asing datang ke gunung. Karena alasan itulah pihak pemda setempat mendistribusikan pamflet yang menginformasikan tentang bahaya pendakian di musim dingin.

Ada berbagai alasan mengapa orang tetap bandel mendaki selama musim penutupan. Mereka percaya dengan semakin tinggi tantangam dipercaya tubuh dan jiwa semakin kuat. Itulah sebabnya dilakukan Shiobara yang mendaki gunung baru baru ini karena berharap dapat semakin kuat jiwa dan raganya sebelum menghadapi ujian hukum pengacara yang direncanakan dilakukan setelah turun dari pendakian gunung Fuji.

"Peluang untuk melihat pemandangan bagus saat pendakian gunung (di musim dingin) lalu di posting di internet telah meningkat," kata Masaya Sasakawa, manajer ATC Store, toko alat alat pendakian gunung di Koizumi, Kota Fujinomiya. Selain itu, tambahnya, apabila alat cukup lengkap, jika tergelincir, dipercaya tidak akan ada pohon yang menghalangi dan tidak akan berhenti. Namun tetap ada batu dan bila berbenturan dengan batu saat jatuh tentu akan meninggal. Masanobu Sakagami, Wakil Polisi Korps Penolong Gunung, mengatakan, "Gunung Fuji di musim dingin sangat berangin dan sangat berbahaya bagi orang yang berpengalaman sekalipun. Musim panas dan musim dingin Gunung Fuji benar benar berbeda situasi dan kondisinya."

Pihak kepolisian Jepang benar benar mengharapkan semua pendaki gunung menghindari pendakian gunung Fuji saat ini yang justru sangat bahaya dengan melihat kasus Shiobara tersebut pula, sebagai salah satu korban. Bagi penggemar Jepang dapat bergabung ke dalam kelompok WAG Pecinta Jepang dengan kirim email ke: [email protected]

Tags
Show More

Ririna Nafiza M

Jika kamu tak membayangkannya, tak ada sesuatu pun yang akan terwujud. Orang-orang biasanya melihat apa yang mereka cari, dan mendengar apa yang mereka ingin dengar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close